Selasa, 06 Maret 2012

KECUPAN TERAKHIR

| |


Malam terasa gelap tak seperti biasanya, suara burung gagak yang jarang terdengar membuat malam semakin mencekam. Udara malam terasa dingin, aku pun masuk kedalam rumah, kutengok kamar ayah terlihat dia sedang tidur nyenyak disamping ibu. Malam ini giliranku menjaganya, ku gelar kasur lantai disebelah kasur ayah. Aku gelisah tiba-tiba aku merasakan perangan batin kulihat jam dinding pukul 11 lewat 50 malam aku tak bisa tidur, kubaca sholawat berkali kali akhirnya aku tertidur. Tak lama aku terbangun mendengar suara batuk, ayah memuntahkan segumpalan darah. Aku panik segera aku mencari air, lap dan baskom. Ibuku terus mengusap usap punggung ayah, kubersihakan darahnya dan kuberi obat, tak lama ayah tidur lagi. Aku dan ibu lebih waspada, kita bergantian menjaga tak tega melihat ibu kelelahan akhirnya ibu yang tidur duluan. Kubaca novel untuk menahan kantukku, tak terasa sudah pukul 4 pagi aku bergegas sholat shubuh, ku tengadahkan kedua tangan ku dan meminta kepada allah “ ya Allah jaga ayah beri ia kesembuhan dan kesabaran amin”. Kulihat ibu mentapku dan menitikkan air mata ”pasti ada hikmah dibalik semua ini, allah telah menyiapkan sesuatu yang indah buat kita semua”.ucap ibu lirih sambil mengusap usap kepalaku.
***
Mentari telah datang kicauan burung saling bersautan menyambut mentari. Pagi ini semua keluarga akan mengantar ayah ke RS.DR Soetomo, sayangnya aku dan adikku tak bisa ikut aku hanya bisa mengantarkan sampai depan rumah. 3 jam berlaludan ibu menelepon ku.
“assalamualaikum” ucap ibuku lemas.
“wa’alaikum salam, bagaimana keadaan ayah bu?” tanya ku langsung.
“ayah sudah tidak apa-apa, hanya butuh istirahat. Jaga adikmu dirumah, ibu menginap di Rumah Sakit”.
“iya bu, baik-baik ya bu. Assalamualaikum”.
“wa’alaikum salam”.
Hatiku lega mendengar kabar ayah baik-baik saja. Pukul 10 malam kakak-kakak ku kembali kerumah kecuali ibu , ayah dan mbak lela.
***
Pagi-pagi mas dulloh dan mbak fida mondar mandir mengemasi barang, mereka
akan pergi ke rumah sakit mengantar beberapa pakaian untuk ayah dan ibu. Aku ingin ikut menjenguk ayah , tetapi tidak diizinkan.aku hanya bisa menurut.
Saat ibu ketoilet ayah ditemui laki-laki memakai pakaian serba putih, gagah dan tampan, mereka saling ngobrol dengan akrab. Saat ibu balik kekamar, laki-laki itu telah pergi. Ayah menceritakan laki-laki itu pada ibu, ibu heran siapa dia? Setelah kejadian itu tingkah ayah semakin aneh. Ayah selalu tanya, jam berapa sekarang? Dan selalu bilang sebentar lagi, begitu seterusnya. Ayah minta semua anaknya datang ke rumah sakit.omongan ayah mulai ngelantur, ibu gelisah tah henti-henti ibu membaca ayat-ayat suci alquran
***
Di rumah, kakak-kakak ku tergopoh-gopoh,aku bingung aku hanya bisa membuntut dibelakang. Aku ingin ikut tapi lagi-lagi aku tidak di izinkan mereka menyuruhku menunggu dirumah.
***
Sampai di rumah sakit suasana semakin menegangkan semua membaca surat yasin, ayah hanya tersenyum dan membisikkan sesuatu ditelinga mas dulloh kakak pertamaku.
“yang rukun jaga ibu mu, adik-adik mu”. Sebutir air mata keluar dari mata mas dulloh, perlahan lahan mas dulloh menuntun membaca kalimat laillahailaallah. Ibu semakin menangis saat ayat terakhir surat yasiin dibacakan , saat itu juga ayahku menghembuskan nafas terakhir. Ibu shock tak percaya....!!! “dia hanya tidur ! periksa lagi dok !!!”jerit ibuku. Dokter pun memeriksa dan positif ayah telah tiada. Ambulance telah siap mengantar.
***
Aku yang saat itu dirumah sedang menonton tv , tiba-tiba bulek iyah lari tergopoh-gopoh ke arah rumahku. Perlahan-lahan bulek berkata “ayah sudah nggak ada nduk , yang sabar nggeh.....”.darah seakan tak mengalir , tenggorokanku tercekat dengan refleks ku banting remote yang ku genggam , ku lempar semua yang ada didekatku aku pun berteriak tak karuan “nggak mungkin ayah..!!!!!bukan ayahku!!!ayahku masih hidup..!!!!!” berulang kali kata-kata ini ku ucapkan. Tetangga-tetanggaku pun mulai berdatangan. Mereka semua menghampiriku , mencoba menenangkanku. Dan seketika itu rumahku yang tadinya sepi menjadi ramai. Perabotan di ruang tamu berganti keranda. Aku merinding melihat semua ini,sebelumnya aku tak pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Tepat jam 3, jenazah ayah tiba dirumah. Aku semakin menangis. Satu persatu semua proses ku ikuti.aku duduk lemas di samping jenazah ayah. Ku bacakan ayat-ayat suci alquran. Dan saat terakhir ayah akan di kafani, keluarga diizinkan melihat wajah ayah untuk terakhir kalinya. Mataku tak mau lepas dari wajah ayah yang terlihat teduh dan tegar. Ku tahan air mata yang terus jatuh dan ku kecup dengan lembut pipi ayah untuk terakhir kali. Ku antar ayah sampai pemakaman. Aku terus berdoa di samping makam ayah. Rasanya aku tak ingin meninggalkan ayah sendiri. Kini aku hidup tanpa ada sosok ayah dalam keluarga. Tapi ayah akan selalu ada dalam hatiku. Segala hal yang terjadi dunia tak lepas dari rangkaian takdir.

0 komentar:

go-top

Posting Komentar

name cursor

About Me

Foto Saya
atika farvie
this is me!!! if you know me, don't forget follow my blog.. :D ^_^
Lihat profil lengkapku

My Playlist

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Blogger templates



Bouncing Star


 
 

FaRvIe nYiTd-nYiTd | Diseñado por: Compartidísimo
Con imágenes de: Scrappingmar©

 
top